Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali dihadapkan pada berbagai macam
tantangan yang memerlukan bimbingan dan pertolongan dari Allah. Rasulullah
Muhammad saw dalam banyak hadits memberikan contoh doa-doa yang bisa kita
panjatkan untuk memohon kebaikan dalam berbagai aspek kehidupan, baik itu urusan
dunia maupun agama atau akhirat.
Salah satu doa yang diajarkan oleh Rasulullah adalah doa yang memohon kebaikan
dalam urusan agama, dunia, dan akhirat. Doa ini sangat bermanfaat dan tidak hanya
sekadar dapat dibaca, namun juga menjelaskan bahwa Islam mengajarkan
keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat.
Doa yang diajarkan oleh Rasulullah saw ini diriwayatkan dalam beberapa hadits, salah
satunya oleh Muslim dalam Shahih-nya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, doa tersebut
adalah sebagai berikut:
Allâhumma ashliḫ lî dînî alladzî huwa ‘ishmatu amrî, wa ashliḫ lî dunyâya allatî fîhâ
ma’âsyî, wa ashliḫ lî âkhiratî allatî fîhâ ma’âdî, waj’alil ḫayâta ziyâdatan lî fî kulli khairin,
waj’alil mawta râḫatan lî min kulli syarr.
Artinya: “Ya Allah, perbaikilah agamaku yang menjadi pelindung urusanku, perbaikilah
duniaku yang di dalamnya ada kehidupanku, dan perbaikilah akhiratku yang di sana
tempat kembaliku. Jadikanlah hidup ini sebagai tambahan segala kebaikan bagiku, dan
jadikanlah kematian sebagai istirahat dari segala keburukan.” HR Muslim)
Doa ini mengandung beberapa elemen penting yang mencerminkan kebutuhan manusia
dalam menjalani kehidupan dunia dan persiapan menuju akhirat.
- Memohon Kebaikan dalam Urusan Agama
Rasulullah saw memulai doa dengan memohon kepada Allah agar memperbaiki
agamanya, yang merupakan pelindung urusan. Dalam hal ini, agama menjadi fondasi
utama dalam kehidupan seorang Muslim.
Dengan memiliki fondasi agama yang baik, seorang Muslim dapat menjalani kehidupan
dengan petunjuk yang jelas, terhindar dari kesalahan, dan mendapatkan keberkahan
dalam setiap langkah. Agama yang baik juga menjadi penjaga dari perbuatan dosa dan
maksiat yang dapat merusak kehidupan dunia dan akhirat. Apabila agama pada diri
seorang Muslim telah rusak, maka niscaya aspek lainnya akan ikut rusak sebagaimana
penjelasan al-Munawi. Al-Munawi, Faydhul Qadir, Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyyah,
1994, jilid VIII, hal. 347). - Memohon Kebaikan dalam Urusan Dunia
Setelah memohon kebaikan dalam urusan agama, Rasulullah saw melanjutkan dengan
memohon agar dunia yang menjadi tempat hidupnya juga diperbaiki. Dunia di sini
mencakup segala aspek kehidupan duniawi seperti pekerjaan, kesehatan, dan hubungan
sosial. Dengan memohon kebaikan dalam urusan dunia, seorang Muslim berharap agar segala
keperluan dunianya terpenuhi dengan cara yang baik dan halal, yang akan
mendukungnya dalam menjalankan ibadah dan memenuhi kewajiban agama serta
terhindar dari kesengsaraan Saifuddin ad-Dahlawi, Lamaʼatut Tanqih fi Syarh Misykatil
Mashabih, Damaskus: Darun Nawadir, 2014, jilid V, hal. 252.
- Memohon Kebaikan dalam Urusan Akhirat
Selanjutnya, Rasulullah saw memohon agar akhiratnya diperbaiki. Akhirat adalah tempat
kembalinya setiap manusia setelah kehidupan dunia. Memohon kebaikan dalam urusan
akhirat berarti memohon agar Allah memberikan petunjuk dan kekuatan untuk
melakukan amal saleh, menjauhkan diri dari perbuatan dosa, dan senantiasa berada di
jalan yang diridhai oleh-Nya.
Dengan demikian, seorang Muslim berharap dapat meraih keselamatan dan
kebahagiaan di akhirat. Menurut al-Munawi, salah satu bentuk meminta kebaikan dalam
urusan akhirat adalah memohon hidayah supaya diberi rasa takut terhadap ancaman
dan larangan dan diberi ketaatan dalam perintah agama. Al-Munawi, Faydhul Qadir, jilid
VIII, hal. 347. - Menjadikan Hidup sebagai Tambahan Kebaikan
Bagian doa ini mengajarkan bahwa hidup harus diisi dengan hal-hal yang baik dan
bermanfaat. Rasulullah saw memohon agar hidupnya menjadi sarana untuk menambah
kebaikan. Artinya, setiap waktu yang diberikan di dunia ini harus digunakan untuk
meningkatkan amal saleh, memperbaiki diri, dan membantu sesama.
Hidup di dunia adalah kesempatan yang diberikan oleh Allah untuk memperbaiki diri dan
berbuat baik sebanyak mungkin sebelum ajal menjemput. Al-Munawi, Faydhul Qadir,
jilid VIII, hal. 347. - Memohon Kematian sebagai Istirahat dari Keburukan
Terakhir, doa ini juga mencakup permohonan agar kematian menjadi istirahat dari segala
keburukan yang pernah, sedang atau akan dilakukan. Rasulullah saw mengajarkan untuk
memandang kematian sebagai bagian dari takdir Allah yang harus diterima dengan
lapang dada.
Kematian bagi seorang Muslim adalah perpindahan dari kehidupan dunia yang penuh
dengan cobaan dan ujian menuju kehidupan yang abadi di akhirat. Dengan demikian,
kematian dapat menjadi istirahat dan pembebasan dari segala kesulitan dan keburukandunia (Saifuddin ad-Dahlawi, Lamaʼatut Tanqih fi Syarh Misykatil Mashabih, jilid V, hal.252). Doa ini sangat relevan dengan kehidupan kita sehari-hari. Dalam menghadapi berbagaitantangan, baik dalam urusan agama, dunia, maupun persiapan untuk akhirat, seorang Muslim dianjurkan untuk senantiasa berdoa kepada Allah. Menurut ath-Thibi, doa ini memang ringkas lafaznya, akan tetapi maknanya sangat luas. Alasannya, karena ia mencakup permohonan akan kebaikan dalam urusan hidup didunia dan akhirat. (Al-Munawi, Faydhul Qadir, jilid VIII, hal. 347). Doa ini juga mengingatkan kita tentang pentingnya keseimbangan antara urusan duniadan akhirat. Seringkali, kita terlalu fokus pada salah satu aspek dan melupakan yang lainnya. Padahal, Islam mengajarkan keseimbangan dalam segala hal. Selain itu, doa ini mengandung pelajaran tentang pentingnya tawakkal (berserah diri) kepada Allah. Meskipun kita berusaha semaksimal mungkin dalam urusan dunia danagama, hasil akhirnya tetap berada di tangan Allah. Dengan berdoa, kita menunjukkankebergantungan kita kepada Allah dan keyakinan bahwa segala sesuatu hanya bisa terjadi dengan izin-Nya. Sebagai penutup, doa ini adalah bentuk manifestasi dari pengakuan kita sebagai hamba Allah yang lemah dan membutuhkan petunjuk-Nya dalam segala aspek kehidupan.Dengan mengamalkan doa ini, kita diharapkan dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik, tidak hanya di dunia tetapi juga dalam mempersiapkan diri untuk kehidupan yang kekal di akhirat